Kamis, 16 Juni 2011

ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUP


ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUP
Oleh : Sumarno

A.   Latar Belakang
Sebagai mahluk yang paling mulia, maka Allah Swt mengangkat manusia sebagai penguasa di bumi. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al- Quran surat Al An,am, Ayat 165, yang berbunyi :
uqèdur Ï%©!$# öNà6n=yèy_ y#Í´¯»n=yz ÇÚöF{$# yìsùuur öNä3ŸÒ÷èt/ s-öqsù <;M»y_uyŠ Ù÷èt/ öNä.uqè=ö7uŠÏj9 Îû !$tB ö/ä38s?#uä 3 ¨bÎ) y7­/u ßìƒÎŽ|  É>$s)Ïèø9$# ¼çm¯RÎ)ur Öqàÿtós9 7LìÏm§ ÇÊÏÎÈ
Artinya: “Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Untuk mengatur bumi dan segala isinya itulah maka manusia dianugerahi akal yang sempurna. Selain itu juga Allah Swt memberikan petunjuk yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, itulah yang disebut dengan “Agama”, yang didalamnya ada petunjuk dan pedoman hidup yaitu kitab ( al-Qur’an ). Dengan akalnya manusia dapat mencapai kemajuan dalam segala bidang. Sedangkan dengan agama manusia akan sejahtera lahir dan batin baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai penguasa di bumi, manusia berkewajiban untuk mengolah alam sekitar untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya. Oleh karena itu, segala yang terdapat di  bumi, daratan dan lautan dan begitu pula yang terdapat di dalam perut bumi harus diolah, digarap dan digali supaya hasilnya dapat dinikmati untuk kehidupan manusia. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al-Quran Surat Al-Huud, Ayat 61 yang berbunyi :
4n<Î)ur yŠqßJrO öNèd%s{r& $[sÎ=»|¹ 4 tA$s% ÉQöqs)»tƒ (#rßç6ôã$# ©!$# $tB /ä3s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ¼çnçŽöxî ( uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiB ÇÚöF{$# óOä.tyJ÷ètGó$#ur $pkŽÏù çnrãÏÿøótFó$$sù ¢OèO (#þqç/qè? Ïmøs9Î) 4 ¨bÎ) În1u Ò=ƒÌs% Ò=ÅgC ÇÏÊÈ                                                                                                              
Artinya : Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. DiaTelah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."

Dari ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa manusia dijadikan penghuni dunia memang untuk menguasai dan memakmurkan bumi dan alam sekitarnya untuk kesejahteraan manusia itu sendiri. Tentang bagaimana menguasai, mengolah dan memakmurkan bumi dan sekitarnya al-Qur’an telah memberikan jawaban yang terbaik untuk manusia.
B.  Pandangan Islam terhadap Lingkungan Hidup
Ekosistem adalah suatu system dimana terdapat suatu keseimbangan ekologis, ( Aly, 1991: 69 ).[1]
Menurut UURI No 23 ( 1997 ,pasal 1 ayat 4 ) disebutkan bahwa ekosistem adalah tatanan unsure lingkungan hidup yang merupakan kesatuan untuk menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktifitas linkungan hidup.[2]
Menurut Abdul Cader Asmal dan Mohammad Asmal pengertian lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang hidup didaratan maupun dilautan yang berada dialam sekitar kita, misalkan manusia , tumbuhan, hewan dan organism-organisme.[3]
Ekosistem merupakan satuan kehidupan yangterdiri atas suatu komunitas makhluk hidup dari berbagai jenis dengan berbagai benda mati yang membentuk suatu system. Ekosistem dicirikan dengan berlangsungnya pertukaran materi dan transformasi energi yang berlangsung di antara berbagai komponen dalan system itu sendiri maupun dengan system yang lain.
Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 22 yang berbunyi :
Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 uÚöF{$# $V©ºtÏù uä!$yJ¡¡9$#ur [ä!$oYÎ/ tAtRr&ur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( Ÿxsù (#qè=yèøgrB ¬! #YŠ#yRr& öNçFRr&ur šcqßJn=÷ès? ÇËËÈ

FILSAFAT ILMU : SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

FILSAFAT ILMU : SEJARAH  DAN  PERKEMBANGANNYA

Oleh: SUMARNO,S.Pd.I

I.                   Pendahuluan

  1. Latar Belakang Pemikiran Epistemologi

            Berpikir kritis, mendalam dan luas adalah ciri-ciri khas filsafat. Selama ciri-ciri tersebut ada pada pemikiran seseorang, berarti filsafat ada pada orang tersebut. Periodisasi filsafat dibagi menjadi empat, yaitu klasik, tengah, modern dan kontemporer. Filsafat klasik (Yunani Kuno) didominasi oleh kepentingan untuk pemuasan intelektual semata atau ilmu untuk ilmu, sedangkan filsafat di abad pertengahan diperalat oleh teologi atau Gereja. Setelah itu, datanglah Francis Bacon (1561-1626) yang mengembangkan filsafat untuk kepentingan sains dan teknologi atau untuk mencari keuntungan.[1] Pemikiran Francis Bacon yang terpengaruh oleh Averroes[2] menjadi wacana baru pada saat itu. Wacana baru muncul karena ketidakpuasan dengan pemikiran yang telah ada, atau pemikiran yang telah ada dirasakan sebagai hal yang mengancam atau paling tidak mengganggu bagi kehidupan intelektual. Pemikiran Francis Bacon dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), George Berkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776). Mereka adalah pemikir empirisisme yang akhirnya melahirkan pemikiran positivistik di Lingakaran Wina di Austria.
            Trend positivistik yang dikembangkan oleh Lingkaran Wina di Austria bisa dikatakan telah mengancam eksistensi ilmu-ilmu humaniora termasuk ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan oleh Mazhab Frankfurt. Ancaman tersebut terlihat pada ungkapan kaum pendukung positivisme. Ungkapan tersebut adalah bahwa sains hanya ada pada natural sciences.
Epistemologi, sebagai cabang filsafat yang membahas secara khusus tentang teori pengetahuan dan filsafat ilmu, memang baru muncul kira-kira abad ke-17. Sebagian dari apa yang dibahas di dalamnya telah diusahakan sejak awal munculnya filsafat karena filsafat bermula dari rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Persoalannya adalah mungkinkah setiap orang yang merasa ingin tahu  dapat memenuhi tuntutan rasa ingin tahunya. Setiap usaha untuk memenuhi tuntutan tersebut sering kali dianggap telah mampu memenuhi rasa ingin tahunya menurut orang yang mengusahakannya tetapi rasa ingin tahu terus berkembang sehingga apa yang oleh semua dianggap telah dapat memenuhi tuntutan rasa ingin tahunya ternyata masih dipandang belum bisa memenuhinya. Hal itu mengandaikan bahwa pemikiran filsafat dari para filosof Barat cenderung khas dan membentuk isme-isme baru tetapi isme-isme tersebut akan juga ditinggalkan. Bagaimana mengembangkan secara kreatif pemikiran yang khas dan menghindarkan pemikiran yang khas tersebut dari berkembang menjadi dogma, atau isme-isme baru?
Dari tahun 1960 sampai tahun 1995 filsafat ilmu berkembang sangat pesat. Sementara ahli menunjuk peristiwa tersebut sebagai indicator matinya positivisme logic. Menurut Noeng Muhadjir, perkembangan tersebut lebih menumbuhkan upaya telaah dari pengukuran kuantitatif ke meta science.[3] Filsafat ilmu-ilmu social berkembang dalam tiga ragam, uaitu: meta ideology, metaphisik, dan metodologi disiplin ilmu. Arti meta telah mengalami perkembangan, dari yang transenden (spekulatif) ke teorinya teori (positivistik) dan sekarang sedang berkembang ke ethik (metaphisik); dan arti normative yang moral (spekulatif) telah berkembang ke arti obligatif (positifistik), dan sekarang sedang berkembang ke ethic obyektif universal (realisme).[4]
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987,  Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur.[5] Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.[6]
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi.            Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon  (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.[7]
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel kant (dalam kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat.[8] Oleh sebab itu Francis bacon (dalam The Liang Gie, 1996) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).[9]
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena  pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu  sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan).[10] Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1996), yang berpendapat bahwa  filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.[11]
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.[12]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas serta dikaitkan dengan permasalahan yang penulis akan jelajahi, maka  penulisan ini akan difokuskan pada pembahasan tentang: “Filsafat Ilmu: Sejarah dan Perkembangannya”, dengan pertimbangan bahwa ilmu itu berkembang, dan perkemabngan ilmu harus disertai dengan landasan filosofik.

B.                 Pokok Bahasan.

1.                  Apakah Filsafat itu ?
2.                  Obyek dan tujuan filsafat.
3.                  Sejauh mana Filsafat itu bagi ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu bagi manusia ?
4.                  Sebutkan ciri – ciri dan perkembangan Filsafat ilmu !
5.                  Sebutkan cabang – cabang Filsafat !

II.                PEMBAHASAN

1.                  Pengertian

a.                                     Filsafat

Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan).[13] Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).[14]
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya  adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.[15]
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (572-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filosuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).[16]
Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).[17]
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.[18]

b.                   Filsafat Ilmu

Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.[19]
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa  filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).[20]
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu.
Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.

2.                  Arah dan Fungsi Filasafat Ilmu

Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil sebuah rantai sebagai perbandingan, menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah mengembangkan pengertian tentang strategi  dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujung lain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis dalam menurunkan hukum-hukumnya.    Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense (pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat.
Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental dan struktural diarahkan pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu pengetahuan alam merupakan bentuk refleksif (relefxion form) dari proses belajar yang ada dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengan kepentingan dalam meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivisme menyamakan rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan alam.[21]
Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yang langsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam keadaan ilmu alam sekarang ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap benda-benda dan gejala-gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang diregistrasi dalam eksperimen adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan” eksperimental kita. Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih teliti terhadap banyak faktor yang dalam pengamatan konkrit selalu terdapat bersama-sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak akan tahu menahu tentang elektron-elektron dan bagian-bagian elementer lainnya.
Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun 1853, Auguste Comte mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996), sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara lebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih cepat. Dalam penggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia diurutkan dalam urutan keempat.
Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan dan ukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tua sejarahnya, secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmu yang dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).
Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapi dalam kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari kelompok ilmu pengetahuan alam.
Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu kimia dapat digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia organik, kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.
Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang ilmu kimia sebagai “… that it relates to the law of the phenomena of composition and decomposition, which result from the molecular and specific mutual action of different subtances, natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungan dengan hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alami maupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak saja melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).
Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam, pada mulanya orang tetap mempertahankan penggunaan nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Hal ini dapat dilihat dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: New Princiles of Chemical Philosophy.
Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraian ini dapat memberikan dasar bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarah perkembangan ilmu alam dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.

3.                  Peran Filsafat Ilmu bagi kehidupan :

a.                  Peran Filsafat bagi manusia

Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan suatu metode tertentu,pengalaman yang bersifat empirik mengenai obyek khusus. Akan tetapi banyak kebenaran yang dicapai manusia, ternya diluar kemampuan daya empirik, yaitu hal – hal yang bersifat abstrak substansial, mengenai sesuatu yang bernilai persoalan – persoalan filsafati. Persoalan – persoalan tersebut bersifat umum dan non faktual, sehingga ilmu pengetahuan tidak mampu menjangkaunya dengan metode andalannya yaitu penyelidikan empirik dan eksperimental. Disinilah akhirnya ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi dan terpaksa menyerahkan tugasnya kepada filsafat, yang bertugas mencari dan memecahkan sesuatu yang bersifat non faktual.

b.                  Peran Filsafat ilmu bagi manusia

Esensi manusia adalah daya fikirnya,yang selalu ingin memahami kenyataan – kenyataan di sekelilingnya. Daya indranya tak mampu memberikan jawaban terhadap masalah – masalah yang menggelisahkan fikirannya, ia hanya mampu menangkap sesuatu yang dapat diamati melalui pembuktian yang konkrit. Filsafat ilmu yang akhirnya berkembang menjadi ilmu pengetahuan mempermudah manusia dalam menghadapi masalah – masalah disekelilingnya. Dengan demikian kebutuhan manusia sedikit banyak akan tercukupi dengan munculnya berbagai ilmu pengetahuan yang di ciptakan manusia.

4.                  Ciri – ciri dan Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu mempunyai ciri – ciri antara lain :
a.                   Persoalan filsafat ilmu bercorak sangat khusus
b.                  Menyangkut masalah – masalah asasi
c.                   Persoalan filsafat ilmu bersifat empiris
d.                  Pembahasan logis, rasional, kritis, mendalam dan dengan hipotesa.
Filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan obyek dari filsafat sekaligus sebagai dan sasaranya. Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai sesuatu kenyataan yang tersusun secara sistematis, melalui penyelidikan, pengalaman dan eksperimen. Kebenaran ilmu pengetahuan harus disertai dengan pembuktian. Sedangkan filsafat adalah pengetahuan sesuatu yang non empirik dan non eksperimental, yang diperoleh melalui usaha dengan fikiran yang mendalam, logis dan rasional. Nilai kebenarannya spekulatif, karena tidak mungkin diuji dengan metode empirik dan eksperimen. Manusia adalah makhluk yang berakal dinamis, selalu ingin tahu terhadap sesuatu yang ada di sekelilingnya. Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya berkembang dan memunculkan filsafat ilmu atau yang disebut ilmu pengetahuan.
            Sejarah perkembangan filsafat ilmu tidak terlepas dari sejarah perkembangan filsafat, untuk mengetahui perkembangan filsafat ilmu, maka penulis paparkan tentang sejarah perkembangan filsafat sebagai induk dari filsafat ilmu atau ilmu pengetahuan.
                                                                              
1).        Filsafat Yunani ( Abad 6 SM – 6 M ).

A.        Filsafat Pra Socrates.

Para pemikir pada saat ini disebut dengan filosof alam. Dikarenakan yang menjadi obyeknya adalah alam ( cosmos ). Mereka berfikir apa  sebenarnya yang merupakan  Prinsip Dasar ( inti ) dari alam semesta ini. Kebanyakan orang hanya mendengarkan dari mythe, legenda atau dongeng dari nenek moyangnya. Adapun para filosof alam yang bermunculan antara lain :
a.                  Thales ( 625 SM – 545 SM )
Ia berpendapat bahwa yang menjadi prinsip dasar dari alam ini adalah Air . Segala sesuatu bersumber dan kembali menjadi air.[22]
b.                  Anaximandros ( 610 – 547 SM )
Ia murid Thales. Ahli Astronomi dan ilmu bumi. Pendapatnya berbeda dengan gurunya. Menurutnya prinsip dsar alam bukannya jenis benda alam, jika jenis benda alam seperti air, mestinya keberadaannya sangat terbatas ( rusak, berubah dan lenyap ). Maka prinsip dasar alam haruslah dari jenis yang tak terhingga dan tak terbatas yaitu ” apeiron ”. Apeiron inilah yang merupakan zat asal kejadian alam. Dari apeiron terjadilah benda – benda alam yang trehingga dan terbatas, mengenal perubahan dan kemusnahan.[23]
c.                   Pythagoras ( 580 SM )
Disamping ia seorang mistikus, ia seorangahli matematika dan berhitung. Menurutnya alam ini tersusun sebagai angka – angka. Segala sesuatu dapat diterangkan atas dasar angka. Ia menemukan bahwa not – not tangga nada sepadan dengan perbandingan antara angka – angka.[24]
d.                  Heraclitos ( 540 – 480 SM )
Ia berpendapat bahwa tak ada yang tetap pada peristiwa alam ini, semua berubah. Tak ada yang disebut ada ( being ), melainkan menjadi ( becoming ). Semua dalam kejadian ” Pantarei ”, Semuanya mengalir. Tak ada barang didunia ini yang tetap, semuanya akan berubah. Yanga baru akan menggantikan yang lama dan segala sesuatu yangg fana adalah tingkat berturut – turut dari suatu gerakan Maha besar.[25]
e.                   Parmenides ( 540 SM )
Menurutnya didunia ini semuanya berubah terus, yang ada adalah ada , yang tidak ada adalah tidak ada. Yang ada satu saja, maka tak ada perubahan sebab perubahan berarti dari tiada menjadi ada, dan itu tidak mungkin, sebab yang tiada adalah tiada. Kebenaran terletak pada pengakuan bawa yang ada itu ada, sedang kesalahan terletak pada persangkaan orang bahwa yang tidak ada dikatakan bahwa itu ada. Penglihatan kita tak boleh dipercaya, hanya fikiran yang dapat mencapai kebenaran dalam keadaan sebenarnya.[26]
f.                   Leukipos
Menurutnya tiap benda terdiri dari atom – atom, bagian terkecil dari benda yang tak dapat dibagi – bagi lagi. Ia menggunakan dasar teorinya : ” yang penuh dan kosong ”. Atom dinamai yang penuh sebagai benda meskipun kecil tetapi bertubuh, setiat benda yang bertubuh mengisi lapangan yang kosong. Kejadian alam ini karena ada yang penuh dan yang kosong, jika tidak ada yang kosong tentunya atom tak bergerak.[27]
g.                  Demokritos ( 460 – 360 SM )
Ia sependapat dengan gurunya Leukipos dan juga sependapat dengan Heraclitos, alam ini berasal dari atom api. Atom apilah yang menjadi dasar segala yang hidup. Atom api adalah jiwa, jiwa itu tersebar keseluruh badan kita, sehingga bergerak. Kita bernafas dengan menarik atom jiwa dari udara, hidup kita hanya selam bernafas. Semua panca indra kita bergerak dan berfungsi disebabkan gerak atom.
h.                  Sofis ( 5 SM )
Kelompok aliran yang ajarannya tertuju pada manusia, bukan pada alam. Mereka tergolong kelompok aliran relativisme. Pokok – pokok ajaranya adalah sebagai berikut :
1. Manusia menjadi ukuran segala – galanya.
2. Kebenaran umum mutlak tidak ada
3. Kebenaran hanya berlaku sementara
4. Kebenaran tidak terdapat pada diri sendiri.
            Tokoh -  tokohnya adalah Protogoras, Gorgias, Hippias dan Prodicus.

B.                 Filsafat Klasik

Akibat aliran sofisme yang sangat mendangkalkan pengetahuan dan melemahkan rasa tanggung – jawab, maka membangkitkan reaksi dengan munculnya filsafat klasik. Tokoh – toohnya antara lain :
1.                  Socrates ( 470 – 399 SM )
Ajarannya berpusat pada manusia. Ia mencari sesuatu yang murni dan benar dari bentuk yang tetap pada sesuatu itu. Dengan metode tanya jawab dan penerapan etika ia memperoleh suatu kesimpulan yang tentang kebenaran dan karakter setiap orang.
2.                  Plato (427 – 347 SM )
Metode yang dikembangkan untuk mengutarakan filsafat yaitu dialog. Dialog yang digunakan merupakan campuran dari filsafat, puisi, ilmu dan seni. Ia mendirikan sekolah Filsafat yang diberi nama Academia.
Filsafatnya digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu; masalah keberadaan, pengetahuan, dan etika. Masalah keberadaan ia mengaku bahwa dunia ini terbagi dua; dunia tubuh yang nampak yang selalu berubah – ubah dan dunia cita ( idea ) yang tetap dan tidak berubah – ubah.[28]
Tentang pengetahuan ia berpendapat bahwa manusia dulu berada didunia idea dan mengenali sekelilingnya. Sekarang didunia nyata jiwa manusia dikurung oleh tubuh sehingga sudah tidak ingat lagi akan hal – hal yang pernah dikenali pada dunia idea dulu. Dengan persentuhan indera dan ingatan diharap mampu membentuk pengetahuan yang dapat mengenal kembali pada hal – hal yang pernah dikenali pada dunia idea.
Etika, didasarkan atas pandangannya tentang dunia yang dualistik : idea dan alam nyata yang empirik. Manusia berasal dari dunia idea, maka di dunia empirik ini tidak untuk selamanya, tetapi bertujuan untuk kembali pada dunia idea bersama – sama dengan kebaikan. Maka Plato filsafatnya disebut filosof idealis.
3.                  Aristoteles ( 304 – 322 SM )
Ia murid Plato. Disamping mempelajari filsafat ia juga memperluas pengetahuan lainnya seperti matematika, astronomi, retorika dsb. Ia berorientasi pada hal yang kongkrit ( real ). Pokok – pokok filsafatnya adalah metafisika, etika, negara, dan logika.
Dalam metafisika ia berpendapat bahwa setiap benda didunia ini adalah merupakan barang yang berbentuk. Barang adalah materi atau bahan yang tidak berbentuk, bersifat kemungkinan yang dapat berbentuk aktual. Terjadi karena ada yang menggerakkan yaitu Nus. Nus adalah yang tetap selamanya, terpisah dari yang lain dan merupakan sebab dari segala – gaalanya. Perubahan di alam ini menuruti gerak tujuan oleh hukum ghaib. Seluruh alam adalah suatu organisme yang besar disusun oleh Tuhan penggerak pertama, menjadi suatu kesatuan menurut tujuan tertentu.
Tentang etika ada tiga hal yang harus dijalani dalam hidup ini untuk mencapai kebahagiaan yaitu ; manusia harus memiliki harta cukup, manusia harus memiliki rasa persahabatan, manusia harus memiliki keadilan.
Dalam hal bentuk negara ia mengemukakan tiga bentuk yaitu ; monarchi, aristokrasi, politea ( demokrasi ).
Inti ajaran logikanya adalah menarik kesimpulan dengan suatu cara yang disebut ”Sillogisme”, yaitu menarik kesimpulan dari kebenaran umum untuk hal – hal yang bersifat khusus. Ia juga berhasil menyusun sepuluh macam pengertian yangdi sebut katagori, yaitu ; substansi ( diri ), kwantitas, kwlitas, relasi, volume, tempos, situasi, status, aksi, danpassi ( penderita ).[29]

C.                Periode Filsafat Zaman Pertengahan ( 6 – 16 SM )

Munculnya theolog dalam ilmu pengetahuan sebagai tanda filsafat zaman pertengahan. Filsafat pada saat ini dihubungkan dengan agama. Pengaruh Plato dan Aristoteles masih terbawa pada zaman ini. Tokoh – tokoh yang terkenal antara lain :
1.                  Thomas Aqustinus ( 354 – 430 M )
Keberadaan alam karena adanya Tuhan. Akal manusia mengenali kebenaran dalam kawasan alamiah, sedangkan wahyu merupakan suatu kebenaran yang bersifat mutlak. Ia menegaskan bahwa ada dua pengetahuan yang tidak perlu dipertentangkan, yaitu ; pengetahuan alamiah yang bersandar pada akal, dan pengetahuaniman yang bersandar pada wahyu.[30]
2.                  Al – Kindi ( 801 – 865 M )
Disamping  ahli filsafat ia juga ahli agama, kedokteran, matematika, logika, penggubah lagu, geometri, aritmatika, fisiologi da astronomi. Pokok – pokok filsafatnya adalah tentang filsafat, metafiska, kenabian dan pengetahuan. Ia berpendapat bahwa antara agama dan filsafat sama – sama memiliki kesamaan yaitu sama – sama mencari suatu kebenaran. Pengetahuan menurutnya ada dua yaitu pengetahuan Ilhiyah yang berasal dari Tuhan yang tercantum dalam al – Qur’an dan pengetahuan Insaniyah yang berdasarkan pemikiran.[31]
3.                  Al – Farobi ( 870 – 950 M )
Kecuali seorang filosof besar ia juga seorang ahli matematika juga ahli musik. Pokok – pokok filsafatnya adalah metafisika, filsafat kenegaraan, dan juga pendamai filsafat Plato dan Aristoteles.
Ia sependapat dengan Plato bahwa alam ini adalah baru terjadi dari tiada.[32] Dalam filsafat kenegaraan ia membagi masyarakat kedalam dua macam yaitu ; masyarakat sempurna dan masyarakat tidak sempurna.
4.                  Ibnu Sina ( 980 – 1037 M )
Selain ahli filsafat ia juga ahli kedokteran, logika, ilmu alam, ilmu pasti, ilmu ketuhanan,fisiologi, anatomi, dan pengobatan. Filsafatnya adalah metafisika, klasifikasi maujudat, teori emanasi.
Berbeda dengan Aristoteles, ia berpendapat bahwa alam ini bukan azali, tetapi didahului oleh keadaan tidak ada. Hal ini sesuai dengan prinsip agama.[33]
Tentang klasifikasi maujudat ia membagi yang ada menjadi dua, yaitu ;  1). Yang wajib adanya ( wajibul wujud, Allah SWT ) yaitu sesuatu yang tidak dapat digambarkan tidak adanya, 2).Yang mungkin adanya ( mumkinul wujud ) yaitu yang terbayang adanya disamping terbayang tidak adanya.
Dalam teori emanasi ia sependapat dengan al – Farobi, pada dasarnya Tuhan itu Al – Aqlu ( akal ) disamping memikirkan diriNya juaga memikirkan diluar diriNya.
5.                  Al – Ghozali ( 1058 – 1111 M )
Selain seorang filosof, ia juga ahli tasawuf. Dalam bukunya ” Al – Munkidz minal dholal ” kebenaran yang sebenarnya adalah kebenaran yang diyakiniinya benar – benar merupakan suatu kebenaran, seperti kebenaran sepuluh itu lebih banyak dari kebenaran tiga.[34]

D.         Periode Filsafat Zaman Renaisance ( 14 – 16 M )

Zaman ini merupakan peralihan dari zaman pertengahan ke modern. Zaman ini ditandai dengan kebangkitan kembali pemikiran bebas dari dogma – dogma agama yang memperhatikan dalam bidang seni lukis, patung, arsitektur, musik sastra, filsafat, ilmu pengetahuan dan tehnologi.[35] Para pemikir reanisance melakukan revolusi besar – besaran dan melepaskan dari otoritas gereja. Tokoh – tokohnya antara lain :
1.                  Coprenicus ( 1473 – 1543 M )
Ia menyelidiki perputaran benda – benda angkasa yang kemudian dikembangkan oleh Galileo – Galilei ( 1564 – 1642 M )dan Johannes Kepler ( 1571 – 1630 M ). Coprenicus menemukan bahwa matahari merupakan pusat perputaran jagad raya.
2.             Vesalius (1514-1564 M ), karyanya De Humani Corporis Fabrica( tentang            susunan tubuh manusia) telah menimbulkan persepsi baru tentang biologi dan anatomi.
3.                  Isaac Newton (1642-1727 M ), dengan karyanya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (Filsafat alam dengan prinsip matematika ).
Bacon merupakan salah satu tokoh perintis filsafat ilmu pengetahuan dengan ungkapan yang terkenal ”knowledge is power” atau pengetahuan adalah kekuasaan. Sehingga memunculkan tiga contoh atas ungkapan diatas, yaitu : ( 1 ) mesiu menghasilkan kemenangan dan perang modern, ( 2 ) kompas memungkinkan manusia mengarungi lautan, ( 3 ) percetaa mempercepat penyebaran ilmupengetahuan.
                                                                                                                               E.    E.         Perkembangan Filsafat Modern  (17-19 M ) 

Semangat renaissance dan gerakan aufklaerung di abad 18 melahirkan filsafat modern. Pengaruh renaissance dan aufklaerung itu telah menyebabkan peradaban dan kebudayaan barat modern berkembang pesat, dan semakin bebas dari pengaruh otoritas dogma-dogma gereja. Dua hal yang sangat penting di zaman filsafat modern yaitu, (1) semakin berkurangnya kekuasaan gereja, (2) semakin bertambahnya kekuasaan ilmu.[36]
            Epistemologi merupakan topik utama dalam perkembangan filsafat modern, sehingga bermunculan aliran – aliran filsafat Rasionalisme, Empirisme, dan Kritisisme.
1)                  Rasionalisme 
Ciri - ciri dari setiap bentuk rasionalisme yaitu:
a)                  Kebenaran yang hakiki itu secara langsung dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarananya.
b)                  Adanya suatu penjabaran secara logika atau deduksi yang memberikan pembuktian tentang sesuatu dari seluruh sisi bidang pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran hakiki tersebut di atas.
            Tokoh-tokohnya antara lain Descartes, Spinoza dan Leibnez. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang bersifat apriori terdiri dari proposisi analitik, yakni proposisi yang predikatnya sudah tercakup dalam subjek. Sebagai contoh gula manis, angsa putih, jejaka itu laki-laki.
2).        Empirisme
Tokoh empirisisme yang terkenal dengan teori” tabularasa” yaitu John Lock. Ia sangat menekankan betapa pentingnya pengalaman . Menurutnya pengetahuan diperoleh dari pengalaman indra. Akal hanya sebagai penampungan, segala hal dapat diungkap melalui pengingdraan. Penganutnya mendsarkan metode pengetahuan tidak berdsar apriori, a paste riori yaitu metode yang mendasarkan atas hal – hal yang datang atau terjadinya atau adanya kemudian.[37]
Penganut empirisme yang lain adalah Thomas Hobbes, dan David Hume.
3).        Kritisisme
Yang dimaksud Kritisisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur filsafat rasionalisme dan empirisme dalam suatu hubungan yang seimbang dan tidak terpisahkan. Tokoh – tokohnya antara lain Imanuel Kant ( 1724 – 1804 M ). Menurutnya pengetahuan merupakan hsil akhir yang diperoleh dengan adanya kerja sama antara dua komponen, yaitu bahan – bahan yang bersifat pengalaman inderawi, dancara – cara mengolah kesan – kesan yang bersangkutan sehingga terdapat suatu hubungan antara sebab dan akibatnya.[38]

E.                 Perkembangan Filsafat Zaman Kontemporer ( abad 20 – sekarang )

Perkembangan Filsafat Zaman Kontemporer ditandai dengan tema – tema bahasa, munculnya aliran – aliran filsafat yang merupakan kelanjutan dari filsafat zaman modern, seperti neo – Thomisme, neo – Kantianisme, neo – Hegelianisme, neo – Marxisme, neo- positivisme, dsb.
Tokoh – tokoh filsafat yang terkenal pada abad 20 smpai sekarang antara lain :
1.                  Jean Paul Sarter ( 1905 – 1980 M ), Ia seorang tokoh eksistensialisme yaitu gerakan anti pandangan rasionalisme, yang membedakan rasio dialektis dengan rasio analitis.
2.                  William James ( 1842 – 1910 M ), seorang tokoh filsafat Pragmatisme, ajarannya suatu sikap, metode,dan filsafat yang memakai sebab akibat praktis dari fikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan suatu kebenaran.[39]
3.                  Karl Raimund Popper ( 1902 M ), Menurutnya yang terpenting dalam ilmu pengetahuan adalah bukan sekedar verifikasi dan justifikasi metodologinya, melainkan bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan dengan memakai prinsip falsifiabilitas atau prinsip bahwa hipotesa suatu dalil- dalil ilmu pengetahuan itu dapat dibuktikan salah ( it can be falsified ), dan teori baru dapat diterima jika teori lama dapat di runtuhkan.
4.                  Thomas S.Kuhn , ia seorang tokoh filsafat ilmu baru dengan bukunya yang terkenal The Structure of Scientific Revolution ( 1962 M ). Pendapatnya filsafat ilmu sebaiknya berguru pada sejarah. Konsep sentral nya adalah paradigma, yaitu gagasan – gagasan dasar cara pandang terhadap suatu obyek yang diikuti dengan model – model analisis. Bagi seorang ilmuwan kemungkinan menemukan fenomena – fenomenayang tidak dapat diterangkan dengan paradigma tersebut , inilah yang disebut dengan Anomali. Semakin menumpuk anomalinya, kebenaran paradigma sebuah ilmu dapat dipertanyakan.
            Di penghujung abad 20 M muncul aliran filsafat yang sangat populer yaitu Filsafat Postmodernisme, kemunculannya akibat kegagalan dari filsafat modernisme, selalu menganggap bahwa segala persoalan dapat diselesaikan dengan berfilsafat, ilmu pengetahuan. Padahal dalam kenyataannya masih banyak persoalan – persoalan kemanusiaan yang masih membutuhkan pemikiran – pmikiran. Untuk membawa manusia modern menuju paradigma baru untuk menyongsong masa depan yang cemerlang.



5.      Kesimpulan

1.  Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa filsafat ilmu sangatlah tepat dijadikan landasan pengembangan ilmu khususnya ilmu pengetahuan alam  karena kenyataanya, filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan alam.
2. Pola fikir manusia harus selalu dikembangkan guna perluasan ilmu pengetahuan.
3.  Kebenaran yang hakiki sebenarnya tidak ada, kebenaran yang hakiki terdapat pada Tuhan.

















DAFTAR PUSTAKA

Lihat: C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 138-139
Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko, dkk., dari History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 614-615
Noeng Muhadjir, Filasafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998                Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986.
Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
          C.Verhaak, dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Gramedia, 1996
          Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu ,Yogyakarta: Liberty, 1996,
Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.
Soeparmo, A.H., 1984., “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”, Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu ,Yogyakarta: Liberty, 1996,
            Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35
Sastraprateja, Pengantar Filsafat ILmu , Jakarta ,1997
H.S. Lucas, The Renaissance And The Reformation, New York: Harper, Row Publisher, 1960
B.Russel, History of Western Philosophy, George Allen & Unwin L.td.,London,1957                                                                                            Nuchelmans, G, Filsafat Pengetahuan, dalam berfikir secara kefilsafatan, Editor dan Alih bahasa : Soejono Soemargono,  Yogyakarta : Nur Cahaya, 1984, hlm. 109.                                                                                                            Kuzwell,E,The Age Off Structuralism, New York : Columbia University Press, 1984                                                                                                                  Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.                                           ____________________., 1996., “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte”, Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-26, 40.                                                        ____________________., 1999., “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Soeparmo, A.H., 1984., Nuchelmans, G., 1982., “Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”, Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11.                              The Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu”, Cet. Ke-4, Penerbit Liberty Yogyakarta, p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93, 159, 161.                                             Van Melsen, A.G.M., 1985., “Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab, Diterjemahkan Oleh K.Bartens”,  Gramedia Jakarta, p.16-17, 25-26.                     Van Peursen, C.A., 1985., “Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Diterjemahkan Oleh J.Drost”, Gramedia Jakarta, p.1, 4, 12.

    ABSTRAK


Dua kata yang masisng-masing mempunyai arti dan makna yang sama saling memaknai dan mejadi satu makna yaitu Ilmu dan Pengetahuan. Mengetahui sumber ilmu pengetahuan bagi seseorang muslim sangat afdol apabila merujuk firman Allah SWT yang terdapat pada Al-Qurr’an surat Thoha 20 : 114, yang berbunyi ;
... 114. Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."

Dari ayat tersebut jelas sekali akan perintah Allah untuk menuntut ilmu penetahuan.
Tetapi karena keterbatasan tentu tidak dinafikan apabila meminjamnya berdasarkan batasan-batasanyang dimiliki. Dengan tanpa mengurangi penghambaan penulis kepada sang Kholiq, dalam makalah ini filsafat ilmu dan sejarah perkembangannya yang dimulai dari sejarah peradaban manusia sampai perkembangan ilmu pengetahuan dan sain di beberapa nagara lain.
Seorang Plato yang hidup diawal abad ke-4 SM,sebagai petunjuk lahirnya filsafat di Yunani yaitu pada abad ke-6 SM. Sampai akhirnya memunculkan para filosof yang terkenal seperti Thales, Socrates, Phithagoras, dan Aristhoteles. Hingga akhirnya pada abad ke 20 M bidang fisika menempati kedudukanyang tertinggi di atas ilmu ilmu lain, dan memunculkan fisikawan yang termashur yaitu Albert Einstein.
Kemudian muncullah cendekiawan-cendekiawan di berbagai belahan dunia dengan dibarengi munculnya berbagai jenis ilmu pengetahuan yang lain. Dalam sejarah peradaban Islam muncullah cendekiawan muslim yang dimulai pada saat perkembangan Bani Ummayah ( 661-750 M) , diteruskan Bani Abbasiyah ( 749-1258 M) yang memnculkan banyak cendekiawan terkenal seperti Al-Jabar, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun diteruskan sampai pada pengembangan ilmu yang lebih maju pada saat ini. Semua itu berawal dari filsafat ilmu yang merupakan cabang dari fisafat jika terus dikembangkan akan membawa perkembangan ilmu yang banyak dan maju. Tanpa berfilsafat pola fikir manusia takkan berkembang, karena berfilsafat berarti berkeinginan untuk berfikir mencari suatu kebenaran.








[1] Lihat: C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 138-139
[2] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko, dkk., dari History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 614-615
[3] Noeng Muhadjir, Filasafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), hal. 1.
[4] Ibid,hlm. 1
[5] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm.14.
[6]Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.

             [7] C.Verhaak, dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Gramedia, 1996
          [8] Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35

[9] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu ,Yogyakarta: Liberty, 1996, hlm. 21
[10]Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.

[11] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu ,Yogyakarta: Liberty, 1996, hlm. 15
          [12] Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35

[13] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 1
[14] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu Yogyakarta: liberty, 1996, hlm. 2
[15] Soeparmo, Filsafat Ilmu dan  Pengembangannya, 1984, hlm. 2
[16] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 1
[17] Soeparmo, Filsafat Ilmu dan  Pengembangannya, 1984, hlm.
[18] Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35
[19] The Liang Gie, Filsafat Ilmu dan  Pengembangannya, 1999, hlm. 12.
[20] Wibisono Koento dkk, Filsafat Ilmu,” Sejarah dan Perkembangannya, hlm. 5
[21] Sastraprateja, Pengantar Filsafat ILmu , Jakarta ,1997, hlm  36
[22] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 18
[23] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 21
[24] Ibid, hlm 22
[25] Ibid, hlm 23
[26] Ibid, hlm 24
[27] Ibid, hlm 25
[28] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 32
[29] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 37
[30] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 58
[31] Ibid
[32] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 60
[33] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 68
[34] Basori Chairil.A, Filsafat, IAIN Walisongo Semarang, 1986, hlm. 71
[35] H.S. Lucas, The Renaissance And The Reformation, New York: Harper, Row Publisher, 1960, hlm. 3
[36] B.Russel, History of Western Philosophy, George Allen & Unwin L.td.,London,1957,hlm.511
[37] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu , Ibd, Hlm,. 78.
[38] Nuchelmans, G, Filsafat Pengetahuan, dalam berfikir secara kefilsafatan, Editor dan Alih bahasa : Soejono Soemargono,  Yogyakarta : Nur Cahaya, 1984, hlm. 109.
[39] Kuzwell,E,The Age Off Structuralism, New York : Columbia University Press, 1980, hlm.VI-X